Home General News Jual Beli Ransomware Tumbuh 2.500% Setahun
Jual Beli Ransomware Tumbuh 2.500% Setahun

Upaya penjualan ini diketahui setelah sebelumnya dilaporkan terjadi kebocoran data besar di Malaysia pada bulan lalu.

Menurut penuturan Salleh, regulator internet Malaysia yaitu Malaysian Communications and Multimedia Commision (MCMC) bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menyelidiki masalah tersebut.

"Kami sudah mengidentifikasi sejumlah sumber potensial terkait kebocoran tersebut dan kami akan segera menyelesaikan penyelidikan ini," tutur Salleh, seperti dilansir Reuters, Kamis (2/11/2017).

CEO MCMC, Mazlan Ismail, mengatakan pihaknya telah bertemu dengan perusahaan-perusahaan telekomunikasi lokal untuk bekerjasama menangani kasus tersebut.

Kebocoran data di Malaysia pada bulan lalu, pertama kali dilaporkan oleh situs web teknologi lokal, Lowyat.net. Situs tersebut mendapatkan informasi mengenai seseorang yang berusaha menjual database besar berisi informasi pribadi di sebuah forum. Seluruh data tersebut dijual dengan harga Bitcoin yang tidak diungkapkan.

Database tersebut terdiri dari nomor telepon, nomor kartu pengenal, alamat rumah dan kartu SIM milik 46,2 juta konsumen dari sedikitnya 12 operator Malaysia. Populasi Malaysia berkisar 32 juta, tapi banyak orang memiliki beberapa nomor telepon sekaligus.

Database tersebut juga diyakini termasuk nomor yang tidak aktif dan milik turis yang mengunjungi Malaysia dalam waktu singkat. Selain itu, juga berisi informasi pribadi lebih dari 80 ribu orang yang bocor dari Malaysian Medical Council dan Malaysian Dental Association.

(Din/Cas)


SUMBER

Andriana Librianty

Liputan6Tekno

Dalam keterangan persnya, Senin (29/2/2016), pakar keamanan cyber Pratama Persadha menjelaskan bahwa sudah seharusnya pemerintah bersikap tegas. Menurutnya selama ini layanan over the top tak menghiraukan aturan hukum dan norma susila di Tanah Air.

“Maksud pemerintah ini bagus, kalau jelas bentuk badan usahanya di Tanah Air jadi jelas mereka harus patuh aturan hukum dan norma susila di Indonesia. Selain itu, mereka wajib bayar pajak seperti bentuk usaha di Tanah Air lainnya,” jelas Pratama.

Memang layanan OTT seperti Facebook banyak menimbulkan kecemburuan. Setidaknya dalam sebulan Facebook bisa meraup lebih dari Rp500 miliar, tanpa membayar pajak. Namun di luar masalah pajak, masalah keamanan dalam negeri juga sangat penting untuk diperhatikan.

“Konten media sosial dan layanan OTT ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai berlawanan dengan hukum dan norma susila di sini. Misalnya pornografi dan juga konten LGBT yang sedang ramai di Tanah Air,” terang chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Tumblr bahkan sudah mendapat peringatan untuk segera diblokir oleh pemerintah, karena banyaknya konten pornografi di sana. Masyarakat juga sedang diramaikan oleh kebijakan Facebook yang menghapus tulisan yang menentang LGBT bahkan Menhan Ryamizard Ryacudu sampai angkat bicara tentang bahaya LGBT.

“Kesulitan pemerintah menertibkan konten ini salah satunya juga karena adanya ratusan provider internet di Indonesia sehingga imbauan untuk memblokir konten tidak serta merta bisa langsung efektif,” terangnya.

 


DAILY CARTOON click to enlarge
ANDERTOONS.COM TECHNOLOGY CARTOONS